Sopan Santun di Jalan

Jalan raya adalah milik umum bukan milik pribadi. Namun terkadang itu tidak disadari oleh penggunanya. Jangankan memikirkan keselamatan orang lain, keselamatan diri sendiripun diabaikan. Itulah mengapa kejadian kecelakaan di jalan raya terus meningkat sepanjang tahun.

Kota Jambi, lima tahun lalu merupakan kota yang tidak terlalu padat lalu lintasnya. Namun, seiring dengan bermunculannya kawasan perekonomian baru seperti mall, supermarket, pasar dan juga kawasan pemukiman baru maka semakin menambah kepadatan lalu lintas di beberapa titik kota. Dahulu, kepadatan lalu lintas hanya terjadi saat ada perayaan hari-hari besar saja, namun saat ini hampir setiap hari pada jam-jam sibuk kemacetan mulai terjadi.

Nah, di saat kemacetan terjadi inilah seringkali sopan santun di jalan dilanggar oleh para penggunanya.
Pagi hari, anak-anak sekolah dan para pekerja seakan berlomba untuk sampai lebih cepat ke tempat tujuan. Tidak ada yang mau mengalah. Lampu merahpun seakan bukan tanda untuk berhenti dan memberi kesempatan pengguna jalan yang lain.
Tidak hanya itu saja, bahkan ketika hendak berbelok ke kiri atau ke kanan dan berpindah jalur, pengendara terkadang tidak memberi tanda bagi pengguna yang lain.
Belum lagi masalah sopir angkot yang seakan-akan menjadi raja di jalan raya. Tiba-tiba berhenti tanpa memberi tanda, menaikkan dan menurunkan penumpang seenaknya, mengebut seolah nyawa penumpang tak ada artinya.
Atau masalah pedagang buah yang berjualan sampai ke badan jalan dan meninggalkan sampah menumpuk di sepanjang jalan.

Sebagai masyarakat umum yang butuh keamanan dan kenyamanan di jalan raya, saya belum melihat upaya optimal dari pemerintah untuk itu. Petugas pengatur lalu lintas tidak selalu ada ketika terjadi masalah kemacetan padahal sudah tersedia pos khusus di daerah tersebut. Petugas ketertiban kota hanya bekerja menertibkan pedagang ketika kota akan menerima kunjungan pejabat negara saja.
Saya juga melihat belum ada upaya menertibkan anak-anak sekolah yang berkendara tanpa menggunakan helm dan tidak memiliki SIM.
Bahkan saya sangat terkejut ketika mendapati bahwa anak-anak SMP menyeberang jalan pada saat lampu hijau menyala. Apakah mereka tidak mendapatkan pelajaran tata krama di jalan dari orang tua dan sekolah?

Kalau hal ini tidak segera mendapatkan perhatian, saya yakin masalah lalu lintas di Kota Jambi akan semakin memburuk.
Semoga prediksi saya tidak benar…..

Tentang Irna

Perjalanan hidup membawa kita pada pengalaman-pengalaman yang memperkaya diri kita. Perjalanan hidup di masa depan adalah sebuah misteri. Akan kemana kita dibawanya pada masa itu. Kita bisa merencanakan. Tetapi hanya Allah SWT yang mengetahui.
Pos ini dipublikasikan di Jambi dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

10 Balasan ke Sopan Santun di Jalan

  1. ibram berkata:

    Selamat aktif kembali. Tulisan-tulisannya bagus, Irna. Teruskan!

  2. jaka berkata:

    Yups bener kita harus selalu sopan walau dijalan,,🙂

  3. nadiaananda berkata:

    Hidup ane katanya berantakan om ditambah rambut ane,, tapi kalo udah baca artikel kok berubah jadi rapi yaaa.. Hehehe..😛

  4. rory berkata:

    untung saya ga tinggal di jambi mbak.. hehe..

  5. Anita berkata:

    semua itu lebih berarti kalau kita mengapresiasinya

  6. wijayaanita78 berkata:

    yang terpenting kita berusaha yg terbaik, pasti akan jadi lebih baik semuanya

  7. adrian10fajri berkata:

    tulisannya bagus..

    salam kenal..

    silahkan berkunjung ke blog saya >> http://www.adrian10fajri.wordpress.com (Pesona Palembang)

  8. Irna berkata:

    salam kenal juga. terima kasih sudah berkunjung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s