Tiara

Tiara, adalah nama teman sekolah anak sulungku Farah. Kalau bisa dikatakan sahabat, mereka adalah dua orang sahabat. Dua sahabat yang bisa tertawa lepas atau cekikikan dengan enak tanpa mempedulikan orang di sekitarnya. Dua anak kelas satu SD itu selalu bersemangat bila bermain bersama.

Dua minggu yang lalu, pada hari Minggu, mumpung hari cerah saya mengajak Farah jalan-jalan. Anak sulung saya ini sebetulnya ‘ngebet’ ingin belajar naik sepeda. Tapi apa daya, baik saya maupun ayahnya belum sempat mengajarinya lagi sejak kami berpuasa sampai saat ini. Sore itu kami berdua berjalan dan Farah atas suruhan saya menuntun sepedanya yang lumayan besar itu. Menurut saya, dengan menuntun sepedanya ia akan terbiasa memegang stang sepeda. Nanti di tempat yang tepat saya akan mengajarinya sedikit.

Ketika melewati rumah Tiara, terjadi percakapan singkat antara anak saya dan Tiara.
“Ra, kamu mau belajar sepeda ta?” tanya Tiara.
“Iya, kata bunda suruh nuntun dulu.” jawab Farah polos.

Aduh, padahal karena saya sedang berbadan dua makanya saya tidak bisa berlarian mengajari Farah bersepeda. Satu-satunya usaha saya ya cuma menyuruhnya menuntun sepedanya supaya dia tau bagaimana membelokkan stang, dan merasakan bagaimana ‘rasa’ jalan yang dilaluinya. Hi hi cara yang aneh ya?

Akhirnya sore itu, setelah menemukan tempat yang cocok Farah belajar ‘serdek-serdek’ saja. Itu istilah untuk memulai naik sepeda dari posisi berdiri, mengayuh kecil dengan satu kaki sementara kaki yang lain tetap di berjalan di tanah. Setelah melakukan serdek-serdek itu posisi tubuh bertahap naik dan kemudian duduk di atas sepeda untuk mengayuh dengan dua kaki.

Agak kaku Farah melakukannya dan hanya tiga kali putaran kecil dia sudah minta saya berlari-lari mengajari dia naik sepeda. Setelah dua putaran kecil, saya yang kecapekan. Kami beristirahat sebentar dan memutuskan untuk pulang.

Seperti ketika berangkat, Farah kembali menuntun sepedanya.
Sambil menuntun sepedanya ia bertanya, “Nda, emang kalo’ nuntun sepeda gini, kakak jadi cepet bisa yah?”
Saya bukannya menjawab malah tertawa kegelian.
“Belum nak, nanti belajar sama ayah lagi ya kalau ayah sudah ada waktu.”
Dan Farah menurut saja sambil berceloteh hal-hal lain.

Dua hari kemudian. Ketika pulang kantor. Farah berlarian ke arahku.
“Bun, kakak sudah bisa naik sepeda” lapornya, yang saya tanggapi dengan heran.
Masa sih, pikir saya.
“Kakak diajari Tiara tadi siang. Kakak bisa Bun, tapi pakai sepedanya Tiara.” katanya lagi berusaha meyakinkan saya.
“Oh ya?” tanya saya masih sangsi.

Tak berapa lama, terdengar teriakan ramai di luar rumah. Ternyata Farah benar-benar naik sepeda. Di belakangnya, Tiara dan anak-anak lainnya berlari mengikuti sambil bersorak menyemangati.
Sungguh, saya terharu sekali melihatnya. Anak saya bisa naik sepeda.
Dan sungguh saya sangat berterima kasih pada Tiara, seorang anak kecil, yang telah meringankan tugas seorang Bunda. He he

Tentang Irna

Perjalanan hidup membawa kita pada pengalaman-pengalaman yang memperkaya diri kita. Perjalanan hidup di masa depan adalah sebuah misteri. Akan kemana kita dibawanya pada masa itu. Kita bisa merencanakan. Tetapi hanya Allah SWT yang mengetahui.
Pos ini dipublikasikan di Anak-anak, serba-serbi, Surabaya. Tandai permalink.

7 Balasan ke Tiara

  1. yulism berkata:

    Sepertinya Tiara memang sahabat yang baik, dia mengajari Farah untuk bisa bersepeda dan memberikan semangat. Teman meberikan pengaruh yang sangat besar pada anak-anak, Semoga Tiara benar-benar sahabat yang baik untuk FArah. thanks

    Terima kasih mbak Yulis. Mereka berdua memang klop.

  2. nh18 berkata:

    Ya …
    Children are quick learners …
    Apa lagi itu kalau dari kawan sejawat …

    Tiara adalah teman sejati …

    BTW … jaga kondisi ya Bu Irna …
    Jangan lari-larian …
    Jangan angkat-angkat …

    (lhatrainersoknasehati.com)
    (hehehe)

    Terima kasih bapak….
    Saya masih sering angkat-angkat pak …
    Angkat jempol🙂

  3. Daniel Mahendra berkata:

    Wah, saat-saat seperti itu tentu moment yang tak pernah terlupakan dalam seumur hidupnya. Bagaimana ia merasakan kali pertama bisa mengendarai sepeda…🙂

    Alhamdulillah…setelah bisa naik sepeda, jadi sulit dicari keberadaannya mas. Hehe…muter-muter kompleks jadi hobi barunya.

  4. Ikkyu_san berkata:

    Tiara dan Farah…. nama yang indah seindah hati dan persahabatan mereka. Saya lupa deh saya bisa naik sepeda diajari siapa. Karena ibu saya tidak pernah bisa naik sepeda.

    Irna harap hati-hati ya, terutama kalau naik turun tangga. Sudah berapa bulan?

    EM

    Sudah enam bulan mbak. Anak ketiga. Terima kasih lho mbak nasehatnya. Kadang-kadang saya suka lupa kalo lagi hamil. Setelah ngos-ngosan baru deh.

  5. edratna berkata:

    Persahabatan yang indah diantara anak-anak….terbayang juga saat pertama kali bisa naik sepeda

    Hehe… kalau jaman saya dulu belajarnya pakai sepeda kebo itu lho bu. Lha wong adanya itu.

  6. dewisree berkata:

    jadi ikut terharu juga Bun..
    salam sayang buat Farah – Lulu – n si kecil (namanya sapa ya lupa hihihi..)

  7. syadri berkata:

    saya mau melihat anak2 bisa lagi bersepeda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s