Es Kelapa Muda vs Es Tebu

Berbuka puasa dengan es degan/kelapa muda atau es tebu, keduanya sungguh sangat menyegarkan. Eits, ingat lagi puasa nih.
Dulu ketika diberi kesempatan tinggal di Denpasar, Bali, saya doyan sekali es kelapa muda. Penjualnya mudah dijumpai, berjajar di sepanjang Jl. Raya Puputan Renon, dan sungguh beruntung karena kantor tempat saya bekerja ada di Renon. Biasanya, sepulang kerja saya mampir untuk sekedar minum semangkuk es kelapa muda atau membeli sebungkus untuk diminum di rumah. Es kelapa muda di Denpasar ini unik karena dalam penyajiannya diberi jeruk nipis. Ah, jadi tambah segar rasanya.
Nah, kalau temannya, es tebu sangat jarang terlihat di Denpasar. Satu-satunya penjual yang sempat terlihat ada di depan kantor TVRI, itupun seringkali tidak terlihat berjualan. Sebelum sempat saya mencicipi rasanya dan melihat cara penyajiannya saya sudah harus pindah ke Jambi.
Berbeda dengan pengalaman di Denpasar, di Jambi justru penjual es tebu lebih mudah ditemui dibandingkan dengan penjual es kelapa muda.
Es kelapa muda di Jambi juga disajikan dalam mangkuk atau gelas besar, namun bisa juga diminum langsung dari buahnya, tentunya setelah diberi lubang diatasnya.
Es tebu di Jambi, menurut saya top banget. Warnanya yang hijau begitu menyegarkan, benar-benar menggambarkan rasanya. Lagi-lagi saya tidak kesulitan menemukannya karena penjualnya berjajar di sepanjang jalan menuju kantor saya di jalan Ahmad Yani.
Ada sedikit cerita di ‘belakang’ penjual es tebu yang saya dengar. Pertama, katanya kalau sudah mencicipi es tebu di Jambi, kita akan betah tinggal di sana. Menurut kepercayaan orang Jambi, siapa yang meminum air yang bersumber dari sungai Batanghari biasanya akan betah di Jambi. Nah kebun-kebun tebu itu katanya disiram pakai air sungai Batanghari. He he he, yah saya sih senang saja, lha wong doyan.
Cerita kedua, katanya, sebelum diperas tebu-tebu itu di rendam air gula supaya manis. Nah, kalau yang ini belum tahu apa benar atau tidak. Saya rasa ya percuma merendam tebu yang sudah manis kedalam rendaman air gula, apa tidak sia-sia perbuatan itu. Bukannya malah rugi, karena harga gula sendiri sudah mahal. He he he.
Denpasar sudah, Jambi, sudah, bagaimana dengan Surabaya?
Di Surabaya, kedua jenis minuman ini sangat mudah ditemui. Walaupun kali ini di sepanjang perjalanan menuju kantor, tidak ada yang menjual keduanya.
Penjual kelapa muda di Surabaya, yang saya ketahui, biasa dijumpai di sepanjang jalan Semarang, jalan A. Yani, jalan Menur dan jalan Ambengan (depan gereja Kristus Raja). Selain di tempat-tempat itu, di warung-warung makanan dan penjual bakso keliling juga seringkali tersedia. Tetapi hati-hati kalau membeli, karena terkadang kelapanya sudah tidak muda lagi dan keras rasanya.
Es tebu juga banyak dijual di beberapa tempat. Berbeda dengan di Jambi, es tebu Surabaya berwarna coklat. Saya tidak tahu apa yang membuatnya berbeda, tetapi karena warnanya itu maka sampai saat ini saya belum berani mencobanya.

Tentang Irna

Perjalanan hidup membawa kita pada pengalaman-pengalaman yang memperkaya diri kita. Perjalanan hidup di masa depan adalah sebuah misteri. Akan kemana kita dibawanya pada masa itu. Kita bisa merencanakan. Tetapi hanya Allah SWT yang mengetahui.
Pos ini dipublikasikan di Jambi, serba-serbi, Surabaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

10 Balasan ke Es Kelapa Muda vs Es Tebu

  1. pimbem berkata:

    di jambi es tebu msh asli dr tebunya ya mbak? beda sekali kl di palembang, es tebu nya udah bercampur dgn pewarna, pemanis, air yg banyak.. rasa tebunya malah ga ada😦

    oh iya, dulu aq pnh ke pontianak dibilangin jg loh, kl udah pnh minum air sungai kapuas pasti balik kesana lg, tp saya udah 2 tahun lebih nih ga pnh kesana lg whuehehe:mrgreen:

    kalau di Jambi wangi tebunya masih terasa dan terus terang itu bikin kangen lho mbak🙂

  2. edratna berkata:

    Es tebu di Jambi munculnya belakangan ya…saat saya masih sering mengunjungi klien di Jambi, sekitar tahun 1995 an…es tebu ini belum banyak…dulu yang terkenal mi celor, sup ikan patin dsb nya.

    Kenangan saya, Jambi kotanya bersih, dilewati sungai yang cukup besar….

    🙂 Tahun 1995?? Wah sudah begitu lama ya bu Enny. Sekarang Jambi berkembang demikian pesatnya, dan kotanya tetap bersih. Mi Celor dan Sup ikan patin sebenarnya asli Palembang. Jenis makanan (kuliner) di Jambi memang banyak dipengaruhi oleh daerah Palembang dan Padang.

  3. mikekono berkata:

    es tebu di Medan jg masih asli loh
    tapi daripada minum es
    gw lbh suka minum teh manis hangat
    saat berbuka puasa

    Keluarga saya juga suka sekali minum teh manis hangat.
    Sepertinya minuman itu sudah menjadi kegemaran siapa saja. Tua dan muda.

  4. radenmasnews berkata:

    wah kayanya seger nih buat buka tar sore…..
    kalo sama es buah seger yg mn ya??

    salam kenal……..

    🙂 Seger yang minum ya pak. Salam kenal.

  5. Kang Nur berkata:

    es tebu di yogya juga pernah dengar, tapi kayaknya gak bgitu populer..
    kalo yg populer malah es cendol asal Banjarnegara di sini🙂
    dulu pernah merebak juga es rumput laut
    kalo es klapa muda yg musiman slama puasa juga banyak

    Es tebu memang kurang populer ya kang. Kebun tebunya yang minim, atau semua hasil kebunnya untuk pabrik gula?🙂
    Baru-baru ini, masih di ‘bulan puasa’, saya sempat ke Mojokerto. Wah, dua jenis minuman itu ada di sepanjang jalan.
    Kalo es cendol dan es rumput laut selain bikin seger juga bikin kenyang.🙂

  6. nh18 berkata:

    Denpasar … Jambi … Surabaya …
    Weis senang travelling rupanya …

    maap saya nyelonong saja ini … ndak sopan sangat …

    salam kenal ,,,

    Travellingnya ya karena nunut suami pak. Salam kenal, terima kasih sudah mampir

  7. jeunglala berkata:

    Hai Irna…

    Aku ga suka es tebu…
    tapi pas kecil dulu sering ngerokoti (halah, bahasanya!) alias ngegigitin (idih, kok manis gini?) batang tebu….
    Sekarang?
    Nggak pernah lagi….

    Ah.. sedihnyaaa… (padahal, langka lho ada pemandangan perempuan manis lagi ngegigit-ngegigit batang tebu! hahaha)

    wah kalo urusan ngerokoti tebu, saya juga pernah. enak, asal tebunya jangan yang ketuaan (batangnya keras banget) he he.

  8. yulism berkata:

    Saya juga tinggal di Surabaya selama 7 tahun, tapi kalau es tebu kok belum pernah merasakan ya? Kalau tebunya sama sepeti Jeung Lala dulu waktu masih didesa juga suka ngrokotin tebu. thanks

    Cukup lama juga ya, mbak Yulis tinggal di Surabaya. Saat ini, walau tidak banyak, penjual mudah dijumpai. Dahulu memang tidak terlalu banyak. Selain es tebu dan degan, penjual es jenis lain juga semakin banyak lho mbak.

  9. emiko berkata:

    saya malah pernah nyobain gigitin tebu di tokyo…
    di jakarta kayaknya jarang bisa dijumpai ya?
    Pernah sih ke sby tapi masih kecil tuh…belum bisa menikmati kotanya
    BTW aku dulu nginep di suatu hotel di sby yang ada disconya namanya rhapsody…apa masih ada ya? hihihi udah bertahun-tahun sih kali udah bubar…

    Hehe… baru tahu di Tokyo ada tebu juga.

  10. masduki berkata:

    Kepada Yth. Bapak/Ibu/Sdr/Sdri.
    Saya Masduki di Jambi. Saat ini di Jambi telah banyak dibudidayakan tebu buah sebagai bahan membuat es sari tebu yang menyegarkan. Tebu buah Jambi besar-besar dan airnya banyak serta memiliki rasa khas yang tidak dimiliki tebu dari daerah lain, sehingga cocok untuk dijadikan bisnis es sari tebu. Bila Anda berniat membuka usaha se sari tebu, saya siap untuk menjadi suplayer. Berminat silahkan call ke 081373212009.
    Terima kasih atas perhatiannya.
    Hormat saya
    Masduki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s