Berbagilah Kak

Kakak begitu menyukai permainan yang ada di laptop milik ayahnya.
Suatu saat ia kecewa karena laptop untuk sementara harus dipinjam kawan ayahnya yang sedang mengerjakan tugas akhir.
Ia mulai merengek dan berkata, ” Bunda, kenapa laptop ayah harus dipinjamkan? Kakak kan ingin main game.”
“Kak, ada kalanya kita harus berbagi dengan orang lain. Kawan ayah itu butuh bantuan. Dia harus mengetik tugas akhirnya di laptop ayah, karena laptopnya rusak.” Saya mencoba menjelaskan.
“Seperti ketika teman kakak meminjam buku bahasa ke kakak, karena bukunya hilang dan ia harus mengerjakan PR”, saya melanjutkan, “Kakak meminjamkan kan?”
Kakak mulai manggut-manggut.
“Coba kakak bayangkan kalau kakak nggak meminjamkan?” tanya saya memancingnya untuk berempati.
Saya tidak perlu melanjutkan percakapan karena saya telah melihat senyum telah kembali hadir di wajahnya.

Tentang Irna

Perjalanan hidup membawa kita pada pengalaman-pengalaman yang memperkaya diri kita. Perjalanan hidup di masa depan adalah sebuah misteri. Akan kemana kita dibawanya pada masa itu. Kita bisa merencanakan. Tetapi hanya Allah SWT yang mengetahui.
Pos ini dipublikasikan di Anak-anak. Tandai permalink.

7 Balasan ke Berbagilah Kak

  1. Kang Nur berkata:

    🙂 wa.. ini mengajarkan anak Kecerdasan Emosi itu ya? mungkin juga Social Quotient..

    inginnya mengajarkan yang baik pada anak, kang Nur. supaya selain bisa ‘mengerti’ dirinya sendiri juga ‘mengerti’ orang lain🙂

  2. cenya95 berkata:

    Namanya juga anak-anak… kalo tidak rebutan manalah enak.
    Kalo tidak ada keramaian dari anak-anak, sepi jadinya rumah ini.
    salam kenal

    promo

    Betul pak, anak-anak memang membuat hidup menjadi lebih hidup.

  3. tutinonka berkata:

    Mbak Irna, cara mendidik yang sangat bagus. Kalau setiap ibu di dunia mendidik anak-anaknya dengan cara seperti ini, insya Allah generasi yang tumbuh adalah generasi yang berakhlak mulia.
    Salam,

    Wah, bu Tuti, sampai juga ke gubuk saya.
    Hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak. Merekalah yang justru mengajari saya banyak hal dengan pertanyaan-pertanyaan mereka. Ternyata anak-anak bisa menjadi guru untuk ibunya.

  4. pimbem berkata:

    ah menyenangkan sekali meliat keakraban bunda dan kakak, pasti udah terjalin pengertian yg kuat ya, didikan ortu yg pas, ga manjain ga juga ngerasin🙂

  5. edratna berkata:

    Setiap saat, tanpa kenal lelah, kita memang harus melatih empati, melatih untuk berbagi, memahami penderitaan dan kekurangan orang lain. Memang capek, apalagi menjawab pertanyaan mereka yang kritis, yang kadang kita pun sulit menjawabnya, namun hasilnya sangat indah.

    Betul bu Enny. Kita harus sabar menjawab pertanyaan dan pernyataan mereka yang seringkali mengejutkan saya. Pertanyaan sulit seringkali saya temui jika ia bertanya tentang agama dan jenis kelamin. Terkadang lucu dan aneh, sebelum menjawab biasanya saya suka tersenyum sendiri.

  6. nh18 berkata:

    Hmmmm ….
    iya ini memang susah kalau menjawab pertanyaan seperti ini … kepada anak-anak …

    Konsep milik pribadi
    Konsep milik orang lain …
    Konsep berbagi yang benar
    Konsep membantu orang lain
    dan sebagainya …

    kadang mesti hati-hati kita ya Bu …
    Salam saya …

    Betul pak trainer, agak sulit menjelaskan konsep-konsep tersebut. Terutama kalau anak-anak menyukai sesuatu, entah itu mainan, makanan atau benda yang lain, terkadang mereka enggan berbagi dengan temannya.🙂

  7. emiko berkata:

    kakak umur berapa sih Irna?
    EM

    bulan Mei tahun ini dia genap 6 tahun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s