Muara Bungo

Awal Maret 2014, rupanya perjalanan saya berlanjut ke Muara Bungo. Sebuah kota kecil di Provinsi Jambi yang sangat pesat perkembangannya. Orang mengenal Muaro Bungo karena letaknya yang strategis di lintas Sumatera. Perjalanan bus, truk, maupun kendaraan pribadi lainnya yang menuju kota-kota di Sumatera Barat dan kota-kota lain di Utara Sumatera pasti melewati Muara Bungo.

Bagi saya, Muara Bungo yang biasa juga disebut Bungo adalah kota peralihan. Kota ini merupakan peralihan dari daerah yang masih hijau menjadi kota modern. Kota ini di sebagian wilayahnya sangat tenang, sedangkan sebagian yang lain begitu ramainya. Saya sendiri tinggal di perbatasan wilayah sepi dan ramai. Strategis sekali rumah yang saya tempati, tenang tapi dekat dengan pusat keramaian Bungo.

Kota Bungo ini hidup 24 jam. Seringkali saya datang dari luar kota, tiba di Bungo tengah malam dan kota masih cukup ramai. Berbeda dengan di kabupaten lain, yang tengah malamnya sepi.

Walaupun hanya kota kecil, kuliner Muara Bungo cukup beragam dan rasanya enak sekali. Sebut saja ketoprak, dendeng batokok, bubur ayam Priangan, pempek Palembang, siomay, bakso, sate padang, gulai kepala ikan, dan masih banyak lagi kuliner yang sangat enak rasanya. Salah satu favorit cemilan saya adalah kacang rebus yang dijual oleh seorang kakek yang biasa mangkal di Pasar dekat Taman Pusparagam Semagor. Juga minuman sari/susu kedelai segar yang jarang bisa saya dapat. Seringkali kehabisan.

Jika teman-teman dalam perjalanan darat ke Utara Sumatera dan melewati Kota Muara Bungo, mampirlah beristirahat di kota ini. Hotel bintang 3 yang tersedia di Bungo sangat nyaman. Hotel Amaris, Semagi, dan Willtop.

Kota kecil cantik yang serba ada…. Muara Bungo.

 

Salam,

Irna

 

Iklan
| Meninggalkan komentar

Perjalanan Singkat ke Senyerang

Saya sebenarnya hobi travelling. Menikmati suasana daerah yang saya kunjungi. Tapi berhubung waktu tidak selalu bisa diajak kompromi karena saya bekerja. Maka hobi saya itu selalu saya dapatkan ketika saya mendapat tugas kantor. Biasanya, saat harus mengikuti pelatihan. Dan terkadang saat harus melakukan pengawasan lapangan.

Bulan Juni 2012, saya diberi kesempatan oleh kantor tempat saya bekerja untuk jalan-jalan lagi.Travelling.

Kali ini tujuannya adalah Kecamatan Senyerang, Tanjung Jabung Barat.

Pagi-pagi, pukul 6, saya sudah stand by di kantor menunggu jemputan. Sebenarnya bukan jemputan mobil travel. Hari itu saya beruntung karena bisa ‘nunut’ alias nebeng kepala kantor ‘cabang’ Tanjab Barat. Sekitar jam setengah tujuh kami berangkat dari Jambi menuju Kuala Tungkal. Perjalanan ke Kuala Tungkal membutuhkan waktu sekitar 2 sampai 3 jam. Tetapi karena hendak ke Kecamatan Senyerang, maka saya cukup turun di Kecamatan Bram Itam.

Jam 9 kami sudah tiba di Bram Itam. Sembari menunggu petugas yang akan mengantar saya ke Senyerang, kami duduk minum teh hangat di sebuah warung. Sekitar setengah jam menunggu, Bang Fahrudin (bukan nama sebenarnya) akhirnya datang. Bang Fahrudin adalah seorang koordinator lapangan. Ia seorang koordinator senior yang prestasinya tergolong baik. Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada Kepala kantor yang berbaik hati memberi tumpangan, saya berangkat. Perjalanan ke Senyerang akan kami lakukan dengan sepeda motor GL Max berplat merah.

Berangkat dari simpang Bram Itam, motor melaju cukup kencang. Pagi itu, masyarakat  sudah memulai aktivitas rutinnya di sepanjang jalan yang kami lewati. Perjalanan yang kami lalui ternyata sangat panjang, lama. Kondisi jalan rusak parah. Banyak melewati jembatan-jembatan kecil yang cukup unik. Sebagian besar jalan yang dilalui cukup lebar, namun jalanan tersebut adalah jalan berbatu.

Badan bergetar-getar dan terguncang turun naik diatas motor yang membawa saya ke Senyerang. Lama duduk di motor, tak terasa telapak tangan  dan pan***tat saya terasa kesemutan. Sampai di tempat, kami menuju rumah seorang warga yang telah lama menjadi mitra kerja bang Fahrudin. Bang Fahrudin bercerita bahwa suami saya pernah menginap di rumah mitra tersebut. Setelah makan siang, kami berangkat menuju sawah untuk melakukan penelitian.

Kampung yang kami kunjungi itu memiliki pasar yang berada di pinggir sungai. Saya rasa, jika boleh memilih, saya lebih memilih jalan air dengan menggunakan perahu pompong.

Setelah tugas selesai, kami kembali melalui perjalanan yang berbatu. Bergetar-getar kembali dan kesemutan lagi. Hahahaha.

Saat maghrib, kami sudah tiba di rumah Bang Fahrudin. Istri beliau menyiapkan makan malam yang saya makan dengan lahapnya. Sambil mengantar saya ke depan pagar, istri bang Fahrudin memberi bungkusan berisi oleh-oleh dua plastik besar kerupuk udang mentah, yang ketika digoreng rasanya enak sekali.

Malam itu saya tiba dengan selamat di Jambi. Itulah perjalanan pertamaku ke Senyerang. Lelah yang dirasa, namun ini menjadi bekalku untuk melaksanakan tugas-tugas selanjutnya yang mungkin lebih heboh dari hari ini.

 

 

Salam,

Irna

| Meninggalkan komentar

Mudik Lebaran (1)

Sebenarnya, rencana Lebaran tahun ini akan kami isi dengan berwisata mengunjungi Kota Lampung. Melihat Gunung Anak Krakatau dari dekat dan menikmati keindahan pantai di Lampung. Juga mengunjungi wisata lain yang menarik seperti tempat melatih Gajah.

Rencana yang sudah disusun itu akhirnya berubah dengan pulang kampung, bersilaturahim dengan keluarga di Jawa, melakukan Lebaran yang sesungguhnya. Pada akhirnya rencana nekat yang terpilih. Sembari berlebaran kami juga berencana mengunjungi kota-kota di sepanjang pulau Jawa dengan kendaraan sewaan/rent car.

Pada Sabtu pagi, kami berangkat dari Jambi dengan pesawat Garuda ke Jakarta. Anak-anak begitu senang karena akan bertemu dengan sepupu mereka. Sampai di Jakarta sekitar jam 9 pagi. Mobil yang kami sewa sudah menunggu. Wah senangnya. Saat itu yang terbayang adalah perjalanan yang mengasyikkan.

Perjalanan selama di tol Jakarta menuju Pantura lancar sampai di KM 66. Disinilah dimulai kemacetan lebaran yang belum pernah kami bayangkan. Kendaraan merayap pelan, tersendat-sendat. Akhirnya kami memilih untuk mengikuti saran polisi masuk ke jalur alternatif melewati Sadang.

Kami sempat beristirahat di rest area tol. Rest area yang kami datangi kurang tertata. Banyak restauran dan rumah makan yang tidak digunakan lagi. WC yang ada tidak mencukupi untuk pemudik yang membludak hari itu. Begitu juga mushalanya, sampai berdesakan orang sholat didalam. Anak-anak yang hari itu memang tidak puasa menyantap soto yang katanya lumayan enak. Si bungsu malah ingin tambah lagi. Kami meneruskan perjalanan. Hehe… jalur alternatifnya macet juga, tersendat lagi.

Oke, kami turuti jalan alternatif yang ditawarkan di ujung persimpangan. Menuju Subang via Wanayasa. Ups, lagi-lagi terjadi kemacetan. Beberapa mobil di depan kami berbalik arah. Dari seorang sopir yang berbalik arah kami mendapat informasi bahwa ada bus yang melintang di jalan. Ow.. gawat nih jika harus berlama-lama lagi. Kami ikut berputar balik setelah sebelumnya sempat membeli telur asin untuk dimakan di perjalanan. Hari menjelang sore ketika kami memutuskan untuk memutar mobil ke Bandung. Masuk ke Subang lewat Lembang dan Ciater.

Perjalanan lancar di jalur ini. Sayang kami melaluinya saat gelap, padahal keindahan alam di jalur ini sangat menyejukkan. Kami sempat singgah di rumah makan yang menawarkan menu ayam bakakak untuk berbuka puasa dan melaksanakan sholat. Selepas itu kami meluncur dengan nyaman sampai di Subang. Sebenarnya Subang adalah kampung halaman ayah, tapi kami sengaja melewatinya dahulu untuk mengejar perjalanan ke Surabaya.

Dari Subang kami menuju Cirebon. Perjalanan yang lumayan berat, karena kemacetan dan pengalihan kendaraan ke jalur-jalur alternatif yang panjang. Beberapa kali kami terjebak kemacetan karena ulah beberapa kendaraan yang kurang sabar. Tetapi kami salut dengan polisi yang bertugas mengamankan lalu lintas malam itu. Mereka sanggup menguraikan kemacetan dan sangat bertanggung jawab.

Beberapa kali kami berhenti di Indomaret dan Alfamart yang buka 24 jam. Kami sangat berterima kasih pada pegawai kedua perusahaan tersebut. Mereka dengan baik menerima pemudik yang memang butuh untuk buang air dan membeli beberapa kebutuhan untuk perjalanan. Dalam persinggahan tersebut, saya sempat mengobrol dengan salah satu pemudik yang ternyata berasal dari Bengkulu. Tujuan mereka adalah Kota Solo. Setiap tahun mereka melakukan perjalanan lebaran, sehingga sudah sangat faham dengan segala keruwetan yang timbul. Bahkan pernah suatu kali mereka harus melewati 2 malam untuk perjalanan dari Jakarta sampai ke Solo. Wow.

Tiba di Cirebon kami langsung masuk tol menuju Jawa Tengah. Tawaran singgah dari Kang Ajid, kakak pertama ayah, tidak bisa kami penuhi. Selain karena waktu yang semakin malam, pukul 1 dini hari, kami juga takut mengganggu rencanakeberangkatan Kang Ajid ke Jogja pagi harinya. Melaju di tol Cirebon bersama ratusan kendaraan lain. Ayah terlihat sudah kelelahan dan mengantuk. Kami berhenti di pinggiran tol bersama beberapa mobil untuk sekedar beristirahat.

Target ayah, kami sampai Tegal pada Subuh nanti.

Dipublikasi di Jambi | Tag , , , | 1 Komentar

Facebook

Siang itu, si tengah, Lulu, merengek-rengek minta ‘dibuatkan’ facebook.

Merengek pada saya, merengek pada ayahnya, merengek juga pada kakaknya.

Ketika ditanya, kenapa tiba-tiba pengen ber-facebook ria, ternyata sahabat karibnya memiliki akun disana. Aduh, anak SD ini.

Akhirnya setelah merengek sekian lama. Setelah saya tidak tahan. Akhirnya saya buatkan juga.

Puas dia melihat ‘mainan’ barunya. Sebagai awalan tentu saja dia berteman dengan keluarga plus satu sahabatnya, yang membuat dia bertekad bulat go public…  hehehe

Dengan bantuan saya, dia mulai mengupload foto-fotonya.

Selamat menikmati facebook Nduk, manfaatkan sebaik-baiknya, dan hati-hati ya….

| Tag , | Meninggalkan komentar

Pawai Obor

Banyak cara merayakan pergantian tahun. Pergantian tahun Hijriyah di Jambi biasanya diisi dengan do’a bersama dan dilanjutkan dengan pawai obor.

Saya tidak terlalu mengerti makna dari pawai obor yang dilakukan. Namun, telah dua kali saya ikut serta dalam pawai obor yang diselenggarakan sekolah anak saya.

Tahun baru kali ini, dua gadis saya ikut pawai obor. Farah, si sulung sudah sejak siang sepulang sekolah membawa sebatang bambu yang sudah diisi minya tanah dan diberi sumbu. Bersemangat sekali nampaknya dan tak sabar menunggu maghrib.

Si tengah, Lulu, tak mau ketinggalan. Sore sepulang sekolah juga sudah bersiap dengan bambunya. Si bungsu akhirnya ikut tak sabar mendengar celotehan kakak-kakaknya.

Ba’da Magrib kami berangkat. Dan seperti yang saya duga, kami terjebak kemacetan akibat tumpah ruah masyarakat terutama peserta dan pengantar pawai obor.

Namanya anak-anak, mereka tetap antusias mengikuti acara itu. Sementara si kakak sudah bergabung dengan teman-teman kelasnya, si tengah memaksa saya ikut dalam barisan menyertainya. Akhirnya, saya mengikuti hiruk pikuk pawai obor beserta anak-anak SD yang menikmati keramaian itu.

Tidak nampak lelah di wajah anak-anak. Hanya tawa dan kegembiraan yang silih berganti.Senyum mengembang di wajah para orang tua yang mengantar sambil memotret kegiatan itu.

Saya tidak berani melihat wajah-wajah pengguna jalan yang hanya bisa mengalah berbagi jalan dengan anak-anak SD itu. Sehingga saya tidak bisa menggambarkannya disini. Hehehe

Semoga dengan bergantinya tahun, bertambah keimanan kita, Nak. Aamiin

 

| Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Sopan Santun di Jalan

Jalan raya adalah milik umum bukan milik pribadi. Namun terkadang itu tidak disadari oleh penggunanya. Jangankan memikirkan keselamatan orang lain, keselamatan diri sendiripun diabaikan. Itulah mengapa kejadian kecelakaan di jalan raya terus meningkat sepanjang tahun.

Kota Jambi, lima tahun lalu merupakan kota yang tidak terlalu padat lalu lintasnya. Namun, seiring dengan bermunculannya kawasan perekonomian baru seperti mall, supermarket, pasar dan juga kawasan pemukiman baru maka semakin menambah kepadatan lalu lintas di beberapa titik kota. Dahulu, kepadatan lalu lintas hanya terjadi saat ada perayaan hari-hari besar saja, namun saat ini hampir setiap hari pada jam-jam sibuk kemacetan mulai terjadi.

Nah, di saat kemacetan terjadi inilah seringkali sopan santun di jalan dilanggar oleh para penggunanya.
Pagi hari, anak-anak sekolah dan para pekerja seakan berlomba untuk sampai lebih cepat ke tempat tujuan. Tidak ada yang mau mengalah. Lampu merahpun seakan bukan tanda untuk berhenti dan memberi kesempatan pengguna jalan yang lain.
Tidak hanya itu saja, bahkan ketika hendak berbelok ke kiri atau ke kanan dan berpindah jalur, pengendara terkadang tidak memberi tanda bagi pengguna yang lain.
Belum lagi masalah sopir angkot yang seakan-akan menjadi raja di jalan raya. Tiba-tiba berhenti tanpa memberi tanda, menaikkan dan menurunkan penumpang seenaknya, mengebut seolah nyawa penumpang tak ada artinya.
Atau masalah pedagang buah yang berjualan sampai ke badan jalan dan meninggalkan sampah menumpuk di sepanjang jalan.

Sebagai masyarakat umum yang butuh keamanan dan kenyamanan di jalan raya, saya belum melihat upaya optimal dari pemerintah untuk itu. Petugas pengatur lalu lintas tidak selalu ada ketika terjadi masalah kemacetan padahal sudah tersedia pos khusus di daerah tersebut. Petugas ketertiban kota hanya bekerja menertibkan pedagang ketika kota akan menerima kunjungan pejabat negara saja.
Saya juga melihat belum ada upaya menertibkan anak-anak sekolah yang berkendara tanpa menggunakan helm dan tidak memiliki SIM.
Bahkan saya sangat terkejut ketika mendapati bahwa anak-anak SMP menyeberang jalan pada saat lampu hijau menyala. Apakah mereka tidak mendapatkan pelajaran tata krama di jalan dari orang tua dan sekolah?

Kalau hal ini tidak segera mendapatkan perhatian, saya yakin masalah lalu lintas di Kota Jambi akan semakin memburuk.
Semoga prediksi saya tidak benar…..

Dipublikasi di Jambi | Tag , , , , , , | 10 Komentar

Hilang

Malam itu kau berkata padaku setengah memohon
Ibu, aku tak ingin mengikutimu ke sana
Aku takut kehilangan dia
Ketika aku kembali ke sini satu saat nanti

Dan siang ini kau berkata padaku setengah menangis
Benarkan ibu,
Dia telah pergi jauh
Kemana aku harus mencarinya

Seketika itu dadaku penuh sesak
Hanya bisa berucap
Maafkan ibu, Nak
Ibu juga kehilangan

Dipublikasi di serba-serbi, Surabaya | Tag | 22 Komentar