Mudik Lebaran (1)

Sebenarnya, rencana Lebaran tahun ini akan kami isi dengan berwisata mengunjungi Kota Lampung. Melihat Gunung Anak Krakatau dari dekat dan menikmati keindahan pantai di Lampung. Juga mengunjungi wisata lain yang menarik seperti tempat melatih Gajah.

Rencana yang sudah disusun itu akhirnya berubah dengan pulang kampung, bersilaturahim dengan keluarga di Jawa, melakukan Lebaran yang sesungguhnya. Pada akhirnya rencana nekat yang terpilih. Sembari berlebaran kami juga berencana mengunjungi kota-kota di sepanjang pulau Jawa dengan kendaraan sewaan/rent car.

Pada Sabtu pagi, kami berangkat dari Jambi dengan pesawat Garuda ke Jakarta. Anak-anak begitu senang karena akan bertemu dengan sepupu mereka. Sampai di Jakarta sekitar jam 9 pagi. Mobil yang kami sewa sudah menunggu. Wah senangnya. Saat itu yang terbayang adalah perjalanan yang mengasyikkan.

Perjalanan selama di tol Jakarta menuju Pantura lancar sampai di KM 66. Disinilah dimulai kemacetan lebaran yang belum pernah kami bayangkan. Kendaraan merayap pelan, tersendat-sendat. Akhirnya kami memilih untuk mengikuti saran polisi masuk ke jalur alternatif melewati Sadang.

Kami sempat beristirahat di rest area tol. Rest area yang kami datangi kurang tertata. Banyak restauran dan rumah makan yang tidak digunakan lagi. WC yang ada tidak mencukupi untuk pemudik yang membludak hari itu. Begitu juga mushalanya, sampai berdesakan orang sholat didalam. Anak-anak yang hari itu memang tidak puasa menyantap soto yang katanya lumayan enak. Si bungsu malah ingin tambah lagi. Kami meneruskan perjalanan. Hehe… jalur alternatifnya macet juga, tersendat lagi.

Oke, kami turuti jalan alternatif yang ditawarkan di ujung persimpangan. Menuju Subang via Wanayasa. Ups, lagi-lagi terjadi kemacetan. Beberapa mobil di depan kami berbalik arah. Dari seorang sopir yang berbalik arah kami mendapat informasi bahwa ada bus yang melintang di jalan. Ow.. gawat nih jika harus berlama-lama lagi. Kami ikut berputar balik setelah sebelumnya sempat membeli telur asin untuk dimakan di perjalanan. Hari menjelang sore ketika kami memutuskan untuk memutar mobil ke Bandung. Masuk ke Subang lewat Lembang dan Ciater.

Perjalanan lancar di jalur ini. Sayang kami melaluinya saat gelap, padahal keindahan alam di jalur ini sangat menyejukkan. Kami sempat singgah di rumah makan yang menawarkan menu ayam bakakak untuk berbuka puasa dan melaksanakan sholat. Selepas itu kami meluncur dengan nyaman sampai di Subang. Sebenarnya Subang adalah kampung halaman ayah, tapi kami sengaja melewatinya dahulu untuk mengejar perjalanan ke Surabaya.

Dari Subang kami menuju Cirebon. Perjalanan yang lumayan berat, karena kemacetan dan pengalihan kendaraan ke jalur-jalur alternatif yang panjang. Beberapa kali kami terjebak kemacetan karena ulah beberapa kendaraan yang kurang sabar. Tetapi kami salut dengan polisi yang bertugas mengamankan lalu lintas malam itu. Mereka sanggup menguraikan kemacetan dan sangat bertanggung jawab.

Beberapa kali kami berhenti di Indomaret dan Alfamart yang buka 24 jam. Kami sangat berterima kasih pada pegawai kedua perusahaan tersebut. Mereka dengan baik menerima pemudik yang memang butuh untuk buang air dan membeli beberapa kebutuhan untuk perjalanan. Dalam persinggahan tersebut, saya sempat mengobrol dengan salah satu pemudik yang ternyata berasal dari Bengkulu. Tujuan mereka adalah Kota Solo. Setiap tahun mereka melakukan perjalanan lebaran, sehingga sudah sangat faham dengan segala keruwetan yang timbul. Bahkan pernah suatu kali mereka harus melewati 2 malam untuk perjalanan dari Jakarta sampai ke Solo. Wow.

Tiba di Cirebon kami langsung masuk tol menuju Jawa Tengah. Tawaran singgah dari Kang Ajid, kakak pertama ayah, tidak bisa kami penuhi. Selain karena waktu yang semakin malam, pukul 1 dini hari, kami juga takut mengganggu rencanakeberangkatan Kang Ajid ke Jogja pagi harinya. Melaju di tol Cirebon bersama ratusan kendaraan lain. Ayah terlihat sudah kelelahan dan mengantuk. Kami berhenti di pinggiran tol bersama beberapa mobil untuk sekedar beristirahat.

Target ayah, kami sampai Tegal pada Subuh nanti.

Dipublikasi di Jambi | Tag , , , | 1 Komentar

Facebook

Siang itu, si tengah, Lulu, merengek-rengek minta ‘dibuatkan’ facebook.

Merengek pada saya, merengek pada ayahnya, merengek juga pada kakaknya.

Ketika ditanya, kenapa tiba-tiba pengen ber-facebook ria, ternyata sahabat karibnya memiliki akun disana. Aduh, anak SD ini.

Akhirnya setelah merengek sekian lama. Setelah saya tidak tahan. Akhirnya saya buatkan juga.

Puas dia melihat ‘mainan’ barunya. Sebagai awalan tentu saja dia berteman dengan keluarga plus satu sahabatnya, yang membuat dia bertekad bulat go public…  hehehe

Dengan bantuan saya, dia mulai mengupload foto-fotonya.

Selamat menikmati facebook Nduk, manfaatkan sebaik-baiknya, dan hati-hati ya….

| Tag , | Meninggalkan komentar

Pawai Obor

Banyak cara merayakan pergantian tahun. Pergantian tahun Hijriyah di Jambi biasanya diisi dengan do’a bersama dan dilanjutkan dengan pawai obor.

Saya tidak terlalu mengerti makna dari pawai obor yang dilakukan. Namun, telah dua kali saya ikut serta dalam pawai obor yang diselenggarakan sekolah anak saya.

Tahun baru kali ini, dua gadis saya ikut pawai obor. Farah, si sulung sudah sejak siang sepulang sekolah membawa sebatang bambu yang sudah diisi minya tanah dan diberi sumbu. Bersemangat sekali nampaknya dan tak sabar menunggu maghrib.

Si tengah, Lulu, tak mau ketinggalan. Sore sepulang sekolah juga sudah bersiap dengan bambunya. Si bungsu akhirnya ikut tak sabar mendengar celotehan kakak-kakaknya.

Ba’da Magrib kami berangkat. Dan seperti yang saya duga, kami terjebak kemacetan akibat tumpah ruah masyarakat terutama peserta dan pengantar pawai obor.

Namanya anak-anak, mereka tetap antusias mengikuti acara itu. Sementara si kakak sudah bergabung dengan teman-teman kelasnya, si tengah memaksa saya ikut dalam barisan menyertainya. Akhirnya, saya mengikuti hiruk pikuk pawai obor beserta anak-anak SD yang menikmati keramaian itu.

Tidak nampak lelah di wajah anak-anak. Hanya tawa dan kegembiraan yang silih berganti.Senyum mengembang di wajah para orang tua yang mengantar sambil memotret kegiatan itu.

Saya tidak berani melihat wajah-wajah pengguna jalan yang hanya bisa mengalah berbagi jalan dengan anak-anak SD itu. Sehingga saya tidak bisa menggambarkannya disini. Hehehe

Semoga dengan bergantinya tahun, bertambah keimanan kita, Nak. Aamiin

 

| Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Sopan Santun di Jalan

Jalan raya adalah milik umum bukan milik pribadi. Namun terkadang itu tidak disadari oleh penggunanya. Jangankan memikirkan keselamatan orang lain, keselamatan diri sendiripun diabaikan. Itulah mengapa kejadian kecelakaan di jalan raya terus meningkat sepanjang tahun.

Kota Jambi, lima tahun lalu merupakan kota yang tidak terlalu padat lalu lintasnya. Namun, seiring dengan bermunculannya kawasan perekonomian baru seperti mall, supermarket, pasar dan juga kawasan pemukiman baru maka semakin menambah kepadatan lalu lintas di beberapa titik kota. Dahulu, kepadatan lalu lintas hanya terjadi saat ada perayaan hari-hari besar saja, namun saat ini hampir setiap hari pada jam-jam sibuk kemacetan mulai terjadi.

Nah, di saat kemacetan terjadi inilah seringkali sopan santun di jalan dilanggar oleh para penggunanya.
Pagi hari, anak-anak sekolah dan para pekerja seakan berlomba untuk sampai lebih cepat ke tempat tujuan. Tidak ada yang mau mengalah. Lampu merahpun seakan bukan tanda untuk berhenti dan memberi kesempatan pengguna jalan yang lain.
Tidak hanya itu saja, bahkan ketika hendak berbelok ke kiri atau ke kanan dan berpindah jalur, pengendara terkadang tidak memberi tanda bagi pengguna yang lain.
Belum lagi masalah sopir angkot yang seakan-akan menjadi raja di jalan raya. Tiba-tiba berhenti tanpa memberi tanda, menaikkan dan menurunkan penumpang seenaknya, mengebut seolah nyawa penumpang tak ada artinya.
Atau masalah pedagang buah yang berjualan sampai ke badan jalan dan meninggalkan sampah menumpuk di sepanjang jalan.

Sebagai masyarakat umum yang butuh keamanan dan kenyamanan di jalan raya, saya belum melihat upaya optimal dari pemerintah untuk itu. Petugas pengatur lalu lintas tidak selalu ada ketika terjadi masalah kemacetan padahal sudah tersedia pos khusus di daerah tersebut. Petugas ketertiban kota hanya bekerja menertibkan pedagang ketika kota akan menerima kunjungan pejabat negara saja.
Saya juga melihat belum ada upaya menertibkan anak-anak sekolah yang berkendara tanpa menggunakan helm dan tidak memiliki SIM.
Bahkan saya sangat terkejut ketika mendapati bahwa anak-anak SMP menyeberang jalan pada saat lampu hijau menyala. Apakah mereka tidak mendapatkan pelajaran tata krama di jalan dari orang tua dan sekolah?

Kalau hal ini tidak segera mendapatkan perhatian, saya yakin masalah lalu lintas di Kota Jambi akan semakin memburuk.
Semoga prediksi saya tidak benar…..

Dipublikasi di Jambi | Tag , , , , , , | 10 Komentar

Hilang

Malam itu kau berkata padaku setengah memohon
Ibu, aku tak ingin mengikutimu ke sana
Aku takut kehilangan dia
Ketika aku kembali ke sini satu saat nanti

Dan siang ini kau berkata padaku setengah menangis
Benarkan ibu,
Dia telah pergi jauh
Kemana aku harus mencarinya

Seketika itu dadaku penuh sesak
Hanya bisa berucap
Maafkan ibu, Nak
Ibu juga kehilangan

Dipublikasi di serba-serbi, Surabaya | Tag | 22 Komentar

Tiara

Tiara, adalah nama teman sekolah anak sulungku Farah. Kalau bisa dikatakan sahabat, mereka adalah dua orang sahabat. Dua sahabat yang bisa tertawa lepas atau cekikikan dengan enak tanpa mempedulikan orang di sekitarnya. Dua anak kelas satu SD itu selalu bersemangat bila bermain bersama.

Dua minggu yang lalu, pada hari Minggu, mumpung hari cerah saya mengajak Farah jalan-jalan. Anak sulung saya ini sebetulnya ‘ngebet’ ingin belajar naik sepeda. Tapi apa daya, baik saya maupun ayahnya belum sempat mengajarinya lagi sejak kami berpuasa sampai saat ini. Sore itu kami berdua berjalan dan Farah atas suruhan saya menuntun sepedanya yang lumayan besar itu. Menurut saya, dengan menuntun sepedanya ia akan terbiasa memegang stang sepeda. Nanti di tempat yang tepat saya akan mengajarinya sedikit.

Ketika melewati rumah Tiara, terjadi percakapan singkat antara anak saya dan Tiara.
“Ra, kamu mau belajar sepeda ta?” tanya Tiara.
“Iya, kata bunda suruh nuntun dulu.” jawab Farah polos.

Aduh, padahal karena saya sedang berbadan dua makanya saya tidak bisa berlarian mengajari Farah bersepeda. Satu-satunya usaha saya ya cuma menyuruhnya menuntun sepedanya supaya dia tau bagaimana membelokkan stang, dan merasakan bagaimana ‘rasa’ jalan yang dilaluinya. Hi hi cara yang aneh ya?

Akhirnya sore itu, setelah menemukan tempat yang cocok Farah belajar ‘serdek-serdek’ saja. Itu istilah untuk memulai naik sepeda dari posisi berdiri, mengayuh kecil dengan satu kaki sementara kaki yang lain tetap di berjalan di tanah. Setelah melakukan serdek-serdek itu posisi tubuh bertahap naik dan kemudian duduk di atas sepeda untuk mengayuh dengan dua kaki.

Agak kaku Farah melakukannya dan hanya tiga kali putaran kecil dia sudah minta saya berlari-lari mengajari dia naik sepeda. Setelah dua putaran kecil, saya yang kecapekan. Kami beristirahat sebentar dan memutuskan untuk pulang.

Seperti ketika berangkat, Farah kembali menuntun sepedanya.
Sambil menuntun sepedanya ia bertanya, “Nda, emang kalo’ nuntun sepeda gini, kakak jadi cepet bisa yah?”
Saya bukannya menjawab malah tertawa kegelian.
“Belum nak, nanti belajar sama ayah lagi ya kalau ayah sudah ada waktu.”
Dan Farah menurut saja sambil berceloteh hal-hal lain.

Dua hari kemudian. Ketika pulang kantor. Farah berlarian ke arahku.
“Bun, kakak sudah bisa naik sepeda” lapornya, yang saya tanggapi dengan heran.
Masa sih, pikir saya.
“Kakak diajari Tiara tadi siang. Kakak bisa Bun, tapi pakai sepedanya Tiara.” katanya lagi berusaha meyakinkan saya.
“Oh ya?” tanya saya masih sangsi.

Tak berapa lama, terdengar teriakan ramai di luar rumah. Ternyata Farah benar-benar naik sepeda. Di belakangnya, Tiara dan anak-anak lainnya berlari mengikuti sambil bersorak menyemangati.
Sungguh, saya terharu sekali melihatnya. Anak saya bisa naik sepeda.
Dan sungguh saya sangat berterima kasih pada Tiara, seorang anak kecil, yang telah meringankan tugas seorang Bunda. He he

Dipublikasi di Anak-anak, serba-serbi, Surabaya | 7 Komentar

Kampung Laut

Beberapa waktu yang lalu saat melakukan browsing tentang sebuah daerah bernama Kampung Laut Jambi, saya menemukan berita tentang adanya suatu spesies kepiting ajaib. Pada tubuh (cangkang) kepiting-kepiting yang ditemukan di Kampung Laut tersebut ada gambar mirip sekali dengan wajah manusia. Subhanalllah.
kepiting

Kepiting-kepiting itu dijual dengan harga tinggi, kemungkinan karena kelangkaannya. Karena untuk memakannya, beberapa orang yang sempat diwawancara pada berita tersebut mengaku agak ‘geli’. Bagaimana tidak geli, lha kalau mau makan harus berhadapan dengan wajah itu.
Saya sendiri mempunyai sedikit pengalaman berkesan tentang Kampung Laut, karena pernah suatu kali saya berkesempatan mengunjunginya.

Kampung Laut terletak di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) Jambi. Seperti kebanyakan daerah lain di Jambi, Kampung Laut merupakan daerah rawa-rawa. Jika dari Muaro Sabak, kita harus melakukan perjalanan menyusuri sungai, dengan waktu tempuh (kalau tidak salah ingat) sekitar setengah jam-an.

Dari pusat perkantoran pemerintah Kabupaten Muara Sabak, saya (berdua dengan teman saya, Kuswan) harus menuju pelabuhan Muara Sabak terlebih dahulu. Pelabuhan kecil ini tempat bersandar perahu-perahu yang menghubungkan berbagai daerah sekitar kabupaten Tanjabtim. Pelabuhan ini lumayan ramai. Perahu-perahu berbaris dan berjajar sepanjang pelabuhan. Perahu-perahu yang datang selain sarat penumpang juga sarat dengan hasil-hasil laut yang akan dibawa ke Kota Jambi. Sementara perahu yang pergi membawa barang-barang kebutuhan rumah tangga untuk dijual sampai ke pelosok daerah.

Perahu yang akan saya tumpangi ternyata berada di baris keempat dan untuk mencapainya saya harus melewati tiga perahu lain. Ndilalah, saya memakai sepatu dan membawa tas yang salah.
Saya harus melepas sepatu bertumit saya supaya seimbang berjalan di ketiga perahu yang pada setiap pijakan akan menyebabkannya bergoyang keras. Serta memeluk erat tas jinjing berisi buku dan dokumen yang lumayan berat. Untung dahulu ada kegiatan Pramuka berupa menyusuri halang rintang keseimbangan. Kalau tidak, saat melintasi perahu kedua saya yakin sudah tercebur.

Sepanjang berperahu, yang terlihat hanya hutan bakau yang masih asli. Mirip dengan serial petualangan yang sering disiarkan di tivi. Suasana hutan sepi (kalau ramai namanya mal), walau terkadang ada monyet yang menampakkan dirinya. Jarang kami bertemu dengan perahu lain. Air pada saat itu masih surut, sehingga ketika tiba di Kampung Laut saya harus menaiki tangga kayu setinggi kurang lebih tiga meter. Tangga kayu itu kokoh sekali, dengan balok kayunya yang besar-besar. Kampung Laut ada di atas sana. Sebuah kampung yang semua bangunan dan jalannya terbuat dari kayu. Balok-balok kayu menyangga semua bangunan dan jalan kampung itu.
Kuswan, teman saya itu sempat mengkhawatirkan saya yang mulai menaiki anak tangga. Tetapi melihat kekokohan balok kayu itu saya yakin saja.

Saya tidak tahu ada apa di atas sana.
Ketika sampai di atas tangga terakhir, ternyata saya sudah menginjak kantor kecamatan Kampung Laut.

Setelah mengunjungi dan memonitor hasil kerja petugas lapangan, kami berkesempatan melihat-lihat suasana Kampung Laut. Sepanjang jalan kayu tersebut, kehidupan perekonomian masyarakat kecil menggeliat. Mereka berjualan bahan makanan pokok, pakaian, peralatan rumah tangga sampai mainan anak. Di beberapa tempat saya melihat penduduk menjemur ikan yang diasinkan. Baunya cukup menyengat. Dan di beberapa sudut lain terlihat penduduk mengolah kelapa menjadi kopra.

Kami beristirahat dan makan di sebuah warung makan. Hidangan yang disajikan hari itu sangat khusus bagi saya. Udang rebus segar dengan sambal balado adalah hal yang biasa. Tetapi ada sepiring ‘sumbun’ di sana. Saya baru pertama kali ini melihatnya. Bentuknya panjang sepanjang jari kelingking manusia. Ramping dan berwarna putih di bagian kulit dan daging. Menurut petugas yang menyertai kami, sumbun itu sejenis kerang. Penduduk ‘memancingnya’ di hamparan pasir yang tersembunyi di sungai. Proses memancingnya menggunakan kapur pada saat air sungai surut.
Ah ya, saya lupa mengatakan bahwa Kampung Laut ini terletak di pinggir sungai dekat dengan muara sungai ke laut. Sehingga banyak hasil laut di kampung ini.
Tidak seperti hasil laut lain, sumbun jarang sekali ada di tempat penjualan hasil laut. Kalaupun ada yang memancing, hasilnya tidak terlalu banyak.

Seperti halnya kawasan lain di daerah Tanjung Jabung, Jambi yang cenderung berawa. Air bersih sangat sulit didapat di daerah ini. Penduduknya menggantungkan kebutuhan air bersih dari hujan. Padahal dekat sungai, tapi susah air bersih.

Ketika pulang kembali ke Muaro Sabak, perahu yang kami tumpangi bermuatan penuh kerang. Sore itu, permukaan air sungai sangat tinggi. Mesin perahu kecil yang biasa disebut pompong itu seringkali tersangkut daun-daunan yang terbawa arus. Perjalanan sering terhenti karena tukang perahu harus membersihkan daun-daun itu.
Hari semakin senja, ketika saya tiba kembali ke pelabuhan Muaro Sabak untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Jambi.

Semoga suatu saat bisa kembali berkunjung ke Kampung Laut yang menyimpan banyak ‘keindahan’.

Dipublikasi di Jambi, Lingkungan | Tag , , , | 27 Komentar