Posted by: Irna on: September 15, 2008
Posted by: Irna on: Agustus 8, 2008
Kakak begitu menyukai permainan yang ada di laptop milik ayahnya.
Suatu saat ia kecewa karena laptop untuk sementara harus dipinjam kawan ayahnya yang sedang mengerjakan tugas akhir.
Ia mulai merengek dan berkata, ” Bunda, kenapa laptop ayah harus dipinjamkan? Kakak kan ingin main game.”
“Kak, ada kalanya kita harus berbagi dengan orang lain. Kawan ayah itu butuh bantuan. Dia harus mengetik tugas akhirnya di laptop ayah, karena laptopnya rusak.” Saya mencoba menjelaskan.
“Seperti ketika teman kakak meminjam buku bahasa ke kakak, karena bukunya hilang dan ia harus mengerjakan PR”, saya melanjutkan, “Kakak meminjamkan kan?”
Kakak mulai manggut-manggut.
“Coba kakak bayangkan kalau kakak nggak meminjamkan?” tanya saya memancingnya untuk berempati.
Saya tidak perlu melanjutkan percakapan karena saya telah melihat senyum telah kembali hadir di wajahnya.
Posted by: Irna on: Agustus 8, 2008
Suatu sore kakak bermain dengan adiknya.
Seperti biasa, si adik mulai usil mengganggu kakak.
“Jangan nakal dik!” kata kakak
“Kenapa nggak boleh nakal kak?” tanya adik,
“Nanti Tuhan marah ya Kak?” lanjutnya.
“Enggak dik” jawab si kakak,
“Allah itu Maha Penyayang bukan Maha Pemarah.” tambahnya.
Posted by: Irna on: Juni 17, 2008
Ternyata di Jambi ada ‘Ancol’. Kawasan Ancol Jambi ini sebenarnya adalah kawasan wisata di pinggir sungai Batanghari. Tepatnya di kelurahan Kasang, di depan rumah dinas gubernur Jambi. Tidak ada yang istimewa di sana. Tidak seistimewa sungai Musi (Palembang) yang sebagian wajahnya telah disulap sangat cantik dengan latar belakang jembatan Amperanya. Indah terutama pada malam hari. Atau sungai Mas (Surabaya), yang di beberapa titik dijadikan taman bermain.
Seandainya sungai-sungai di Indonesia dikelola dan dijaga dengan baik. Tidak ada pencemaran akibat penambangan emas yang menggunakan merkuri. Tidak ada bangunan liar di sepanjang sungai. Tidak ada pabrik yang membuang limbah seenaknya. Tidak ada sampah yang menutupi alirannya.
Seandainya pemerintah, masyarakat dan kita bertanggung jawab menjaganya.
Saya yakin sungai-sungai itu akan membawa manfaat lebih pada kehidupan. Jika saja airnya tidak tercemar sehingga bisa dengan aman digunakan sebagai sumber air bersih. Jika saja alirannya lancar sehingga tidak menyebabkan banjir.
Ayo kita mulai peduli….
Posted by: Irna on: Mei 23, 2008
Selama di Surabaya, jika anak sedang sakit, saya seringkali teringat pada ‘dokter Pandji’. Seorang dokter spesialis anak yang berpraktek di Kota Jambi. Dokter ini terkenal bertangan dingin sehingga banyak ibu yang membawa anaknya yang sakit untuk berobat ke tempat prakteknya, termasuk saya.
Saban hari, mulai Senin sampai Sabtu, tempat prakteknya di daerah Pasar Jambi, dipenuhi oleh pasien kecil, bayi dan anak-anak. Saking penuhnya, praktek dokter ini membatasi jumlah pasien yang berobat. Pagi hari, maksimum 20 anak saja sedangkan sore hari pasien dibatasi hanya 50 anak.
Sebelum berkunjung sore hari pasien diwajibkan mendaftar tiga jam sebelumnya. Karena praktek mulai jam 5 sore maka jam 2 siang sudah harus mendaftar. Banyak pasien yang kecewa karena tidak mendapat nomor pendaftaran karena sejak jam 1 sudah banyak orang yang mengantri.
Nah kalau sedang menunggu saat berobat saya seringkali memperhatikan penyakit yang diderita anak-anak lain selain anak saya. Ternyata penyakit mereka seringkali seragam. Penyakit musiman. Maksudnya, kalau musim sakit diare ya sebagian besar anak-anak menderita diare. Kalau musim batuk pilek, sebagian besar anak-anak menderita penyakit batuk dan pilek.
Dokter yang sabar ini sudah hapal betul penyebab penyakit anak-anak (yang musiman itu). Jadi walaupun pasiennya banyak kalau penyakitnya sama ya resepnya pasti hampir mirip.
Ada satu hal yang masih teringat. Ketika Keponakan saya yang berusia 3 tahun datang berkunjung ke Jambi dan sakit. Saat itu selain untuk menyembuhkan sakit batuk pileknya, sebenarnya saya juga mengkonsultasikan keterlambatan bicaranya pada dokter Pandji. Alhamdulillah setelah rajin berkonsultasi dan menjalankan beberapa treatment dari dokter Pandji, ia mulai lancar bicara. Sekarang kalau melihat keponakan saya itu, atau ketika anak-anak sakit. Terkadang saya jadi teringat dokter Pandji dan tersenyum sendiri membayangkan suasana tempat prakteknya.
Komentar Terakhir