Perjalanan Irna

Es Kelapa Muda vs Es Tebu

Posted by: Irna on: September 15, 2008

Berbuka puasa dengan es degan/kelapa muda atau es tebu, keduanya sungguh sangat menyegarkan. Eits, ingat lagi puasa nih.
Dulu ketika diberi kesempatan tinggal di Denpasar, Bali, saya doyan sekali es kelapa muda. Penjualnya mudah dijumpai, berjajar di sepanjang Jl. Raya Puputan Renon, dan sungguh beruntung karena kantor tempat saya bekerja ada di Renon. Biasanya, sepulang kerja saya mampir untuk sekedar minum semangkuk es kelapa muda atau membeli sebungkus untuk diminum di rumah. Es kelapa muda di Denpasar ini unik karena dalam penyajiannya diberi jeruk nipis. Ah, jadi tambah segar rasanya.
Nah, kalau temannya, es tebu sangat jarang terlihat di Denpasar. Satu-satunya penjual yang sempat terlihat ada di depan kantor TVRI, itupun seringkali tidak terlihat berjualan. Sebelum sempat saya mencicipi rasanya dan melihat cara penyajiannya saya sudah harus pindah ke Jambi.
Berbeda dengan pengalaman di Denpasar, di Jambi justru penjual es tebu lebih mudah ditemui dibandingkan dengan penjual es kelapa muda.
Es kelapa muda di Jambi juga disajikan dalam mangkuk atau gelas besar, namun bisa juga diminum langsung dari buahnya, tentunya setelah diberi lubang diatasnya.
Es tebu di Jambi, menurut saya top banget. Warnanya yang hijau begitu menyegarkan, benar-benar menggambarkan rasanya. Lagi-lagi saya tidak kesulitan menemukannya karena penjualnya berjajar di sepanjang jalan menuju kantor saya di jalan Ahmad Yani.
Ada sedikit cerita di ‘belakang’ penjual es tebu yang saya dengar. Pertama, katanya kalau sudah mencicipi es tebu di Jambi, kita akan betah tinggal di sana. Menurut kepercayaan orang Jambi, siapa yang meminum air yang bersumber dari sungai Batanghari biasanya akan betah di Jambi. Nah kebun-kebun tebu itu katanya disiram pakai air sungai Batanghari. He he he, yah saya sih senang saja, lha wong doyan.
Cerita kedua, katanya, sebelum diperas tebu-tebu itu di rendam air gula supaya manis. Nah, kalau yang ini belum tahu apa benar atau tidak. Saya rasa ya percuma merendam tebu yang sudah manis kedalam rendaman air gula, apa tidak sia-sia perbuatan itu. Bukannya malah rugi, karena harga gula sendiri sudah mahal. He he he.
Denpasar sudah, Jambi, sudah, bagaimana dengan Surabaya?
Di Surabaya, kedua jenis minuman ini sangat mudah ditemui. Walaupun kali ini di sepanjang perjalanan menuju kantor, tidak ada yang menjual keduanya.
Penjual kelapa muda di Surabaya, yang saya ketahui, biasa dijumpai di sepanjang jalan Semarang, jalan A. Yani, jalan Menur dan jalan Ambengan (depan gereja Kristus Raja). Selain di tempat-tempat itu, di warung-warung makanan dan penjual bakso keliling juga seringkali tersedia. Tetapi hati-hati kalau membeli, karena terkadang kelapanya sudah tidak muda lagi dan keras rasanya.
Es tebu juga banyak dijual di beberapa tempat. Berbeda dengan di Jambi, es tebu Surabaya berwarna coklat. Saya tidak tahu apa yang membuatnya berbeda, tetapi karena warnanya itu maka sampai saat ini saya belum berani mencobanya.

Berbagilah Kak

Posted by: Irna on: Agustus 8, 2008

Kakak begitu menyukai permainan yang ada di laptop milik ayahnya.
Suatu saat ia kecewa karena laptop untuk sementara harus dipinjam kawan ayahnya yang sedang mengerjakan tugas akhir.
Ia mulai merengek dan berkata, ” Bunda, kenapa laptop ayah harus dipinjamkan? Kakak kan ingin main game.”
“Kak, ada kalanya kita harus berbagi dengan orang lain. Kawan ayah itu butuh bantuan. Dia harus mengetik tugas akhirnya di laptop ayah, karena laptopnya rusak.” Saya mencoba menjelaskan.
“Seperti ketika teman kakak meminjam buku bahasa ke kakak, karena bukunya hilang dan ia harus mengerjakan PR”, saya melanjutkan, “Kakak meminjamkan kan?”
Kakak mulai manggut-manggut.
“Coba kakak bayangkan kalau kakak nggak meminjamkan?” tanya saya memancingnya untuk berempati.
Saya tidak perlu melanjutkan percakapan karena saya telah melihat senyum telah kembali hadir di wajahnya.

Allah Maha Penyayang

Posted by: Irna on: Agustus 8, 2008

Suatu sore kakak bermain dengan adiknya.
Seperti biasa, si adik mulai usil mengganggu kakak.
“Jangan nakal dik!” kata kakak
“Kenapa nggak boleh nakal kak?” tanya adik,
“Nanti Tuhan marah ya Kak?” lanjutnya.
“Enggak dik” jawab si kakak,
“Allah itu Maha Penyayang bukan Maha Pemarah.” tambahnya.

Seandainya Sungai di Indonesia…..

Posted by: Irna on: Juni 17, 2008

Ternyata di Jambi ada ‘Ancol’. Kawasan Ancol Jambi ini sebenarnya adalah kawasan wisata di pinggir sungai Batanghari. Tepatnya di kelurahan Kasang, di depan rumah dinas gubernur Jambi. Tidak ada yang istimewa di sana. Tidak seistimewa sungai Musi (Palembang) yang sebagian wajahnya telah disulap sangat cantik dengan latar belakang jembatan Amperanya. Indah terutama pada malam hari. Atau sungai Mas (Surabaya), yang di beberapa titik dijadikan taman bermain.
Seandainya sungai-sungai di Indonesia dikelola dan dijaga dengan baik. Tidak ada pencemaran akibat penambangan emas yang menggunakan merkuri. Tidak ada bangunan liar di sepanjang sungai. Tidak ada pabrik yang membuang limbah seenaknya. Tidak ada sampah yang menutupi alirannya.
Seandainya pemerintah, masyarakat dan kita bertanggung jawab menjaganya.
Saya yakin sungai-sungai itu akan membawa manfaat lebih pada kehidupan. Jika saja airnya tidak tercemar sehingga bisa dengan aman digunakan sebagai sumber air bersih. Jika saja alirannya lancar sehingga tidak menyebabkan banjir.

Ayo kita mulai peduli….

Dokter Pandji

Posted by: Irna on: Mei 23, 2008

Selama di Surabaya, jika anak sedang sakit, saya seringkali teringat pada ‘dokter Pandji’. Seorang dokter spesialis anak yang berpraktek di Kota Jambi. Dokter ini terkenal bertangan dingin sehingga banyak ibu yang membawa anaknya yang sakit untuk berobat ke tempat prakteknya, termasuk saya.
Saban hari, mulai Senin sampai Sabtu, tempat prakteknya di daerah Pasar Jambi, dipenuhi oleh pasien kecil, bayi dan anak-anak. Saking penuhnya, praktek dokter ini membatasi jumlah pasien yang berobat. Pagi hari, maksimum 20 anak saja sedangkan sore hari pasien dibatasi hanya 50 anak.
Sebelum berkunjung sore hari pasien diwajibkan mendaftar tiga jam sebelumnya. Karena praktek mulai jam 5 sore maka jam 2 siang sudah harus mendaftar. Banyak pasien yang kecewa karena tidak mendapat nomor pendaftaran karena sejak jam 1 sudah banyak orang yang mengantri.
Nah kalau sedang menunggu saat berobat saya seringkali memperhatikan penyakit yang diderita anak-anak lain selain anak saya. Ternyata penyakit mereka seringkali seragam. Penyakit musiman. Maksudnya, kalau musim sakit diare ya sebagian besar anak-anak menderita diare. Kalau musim batuk pilek, sebagian besar anak-anak menderita penyakit batuk dan pilek.
Dokter yang sabar ini sudah hapal betul penyebab penyakit anak-anak (yang musiman itu). Jadi walaupun pasiennya banyak kalau penyakitnya sama ya resepnya pasti hampir mirip.
Ada satu hal yang masih teringat. Ketika Keponakan saya yang berusia 3 tahun datang berkunjung ke Jambi dan sakit. Saat itu selain untuk menyembuhkan sakit batuk pileknya, sebenarnya saya juga mengkonsultasikan keterlambatan bicaranya pada dokter Pandji. Alhamdulillah setelah rajin berkonsultasi dan menjalankan beberapa treatment dari dokter Pandji, ia mulai lancar bicara. Sekarang kalau melihat keponakan saya itu, atau ketika anak-anak sakit. Terkadang saya jadi teringat dokter Pandji dan tersenyum sendiri membayangkan suasana tempat prakteknya.