Posted by: Irna on: November 24, 2008
Beberapa waktu yang lalu saat melakukan browsing tentang sebuah daerah bernama Kampung Laut Jambi, saya menemukan berita tentang adanya suatu spesies kepiting ajaib. Pada tubuh (cangkang) kepiting-kepiting yang ditemukan di Kampung Laut tersebut ada gambar mirip sekali dengan wajah manusia. Subhanalllah.

Kepiting-kepiting itu dijual dengan harga tinggi, kemungkinan karena kelangkaannya. Karena untuk memakannya, beberapa orang yang sempat diwawancara pada berita tersebut mengaku agak ‘geli’. Bagaimana tidak geli, lha kalau mau makan harus berhadapan dengan wajah itu.
Saya sendiri mempunyai sedikit pengalaman berkesan tentang Kampung Laut, karena pernah suatu kali saya berkesempatan mengunjunginya.
Kampung Laut terletak di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) Jambi. Seperti kebanyakan daerah lain di Jambi, Kampung Laut merupakan daerah rawa-rawa. Jika dari Muaro Sabak, kita harus melakukan perjalanan menyusuri sungai, dengan waktu tempuh (kalau tidak salah ingat) sekitar setengah jam-an.
Dari pusat perkantoran pemerintah Kabupaten Muara Sabak, saya (berdua dengan teman saya, Kuswan) harus menuju pelabuhan Muara Sabak terlebih dahulu. Pelabuhan kecil ini tempat bersandar perahu-perahu yang menghubungkan berbagai daerah sekitar kabupaten Tanjabtim. Pelabuhan ini lumayan ramai. Perahu-perahu berbaris dan berjajar sepanjang pelabuhan. Perahu-perahu yang datang selain sarat penumpang juga sarat dengan hasil-hasil laut yang akan dibawa ke Kota Jambi. Sementara perahu yang pergi membawa barang-barang kebutuhan rumah tangga untuk dijual sampai ke pelosok daerah.
Perahu yang akan saya tumpangi ternyata berada di baris keempat dan untuk mencapainya saya harus melewati tiga perahu lain. Ndilalah, saya memakai sepatu dan membawa tas yang salah.
Saya harus melepas sepatu bertumit saya supaya seimbang berjalan di ketiga perahu yang pada setiap pijakan akan menyebabkannya bergoyang keras. Serta memeluk erat tas jinjing berisi buku dan dokumen yang lumayan berat. Untung dahulu ada kegiatan Pramuka berupa menyusuri halang rintang keseimbangan. Kalau tidak, saat melintasi perahu kedua saya yakin sudah tercebur.
Sepanjang berperahu, yang terlihat hanya hutan bakau yang masih asli. Mirip dengan serial petualangan yang sering disiarkan di tivi. Suasana hutan sepi (kalau ramai namanya mal), walau terkadang ada monyet yang menampakkan dirinya. Jarang kami bertemu dengan perahu lain. Air pada saat itu masih surut, sehingga ketika tiba di Kampung Laut saya harus menaiki tangga kayu setinggi kurang lebih tiga meter. Tangga kayu itu kokoh sekali, dengan balok kayunya yang besar-besar. Kampung Laut ada di atas sana. Sebuah kampung yang semua bangunan dan jalannya terbuat dari kayu. Balok-balok kayu menyangga semua bangunan dan jalan kampung itu.
Kuswan, teman saya itu sempat mengkhawatirkan saya yang mulai menaiki anak tangga. Tetapi melihat kekokohan balok kayu itu saya yakin saja.
Saya tidak tahu ada apa di atas sana.
Ketika sampai di atas tangga terakhir, ternyata saya sudah menginjak kantor kecamatan Kampung Laut.
Setelah mengunjungi dan memonitor hasil kerja petugas lapangan, kami berkesempatan melihat-lihat suasana Kampung Laut. Sepanjang jalan kayu tersebut, kehidupan perekonomian masyarakat kecil menggeliat. Mereka berjualan bahan makanan pokok, pakaian, peralatan rumah tangga sampai mainan anak. Di beberapa tempat saya melihat penduduk menjemur ikan yang diasinkan. Baunya cukup menyengat. Dan di beberapa sudut lain terlihat penduduk mengolah kelapa menjadi kopra.
Kami beristirahat dan makan di sebuah warung makan. Hidangan yang disajikan hari itu sangat khusus bagi saya. Udang rebus segar dengan sambal balado adalah hal yang biasa. Tetapi ada sepiring ‘sumbun’ di sana. Saya baru pertama kali ini melihatnya. Bentuknya panjang sepanjang jari kelingking manusia. Ramping dan berwarna putih di bagian kulit dan daging. Menurut petugas yang menyertai kami, sumbun itu sejenis kerang. Penduduk ‘memancingnya’ di hamparan pasir yang tersembunyi di sungai. Proses memancingnya menggunakan kapur pada saat air sungai surut.
Ah ya, saya lupa mengatakan bahwa Kampung Laut ini terletak di pinggir sungai dekat dengan muara sungai ke laut. Sehingga banyak hasil laut di kampung ini.
Tidak seperti hasil laut lain, sumbun jarang sekali ada di tempat penjualan hasil laut. Kalaupun ada yang memancing, hasilnya tidak terlalu banyak.
Seperti halnya kawasan lain di daerah Tanjung Jabung, Jambi yang cenderung berawa. Air bersih sangat sulit didapat di daerah ini. Penduduknya menggantungkan kebutuhan air bersih dari hujan. Padahal dekat sungai, tapi susah air bersih.
Ketika pulang kembali ke Muaro Sabak, perahu yang kami tumpangi bermuatan penuh kerang. Sore itu, permukaan air sungai sangat tinggi. Mesin perahu kecil yang biasa disebut pompong itu seringkali tersangkut daun-daunan yang terbawa arus. Perjalanan sering terhenti karena tukang perahu harus membersihkan daun-daun itu.
Hari semakin senja, ketika saya tiba kembali ke pelabuhan Muaro Sabak untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Jambi.
Semoga suatu saat bisa kembali berkunjung ke Kampung Laut yang menyimpan banyak ‘keindahan’.
Quote:
Untung dahulu ada kegiatan Pramuka berupa menyusuri halang rintang keseimbangan.
aduh irna….aku biar ikut pramuka juga, pasti ngga bisa. soalnya aku takut air sih hihihi
Aku sumatra paling-paling ke Medan, Padang, Bukittinggi saja. Lagi ingin ke Kalimantan nih saya…
EM
Masa sih mbak takut air. Hihi…air kotor kali yah.
Wah…wah daftar tempat yang sudah dikunjungi di Pulau Sumatera sudah seabreg tuh mbak.
Lha wong saya cuma sempat ke Lampung, Palembang dan seputaran Jambi.
asik kayaknya
Kampung laut…adalah kampungku ![]()
airnya emang gak jernih karena bukan air laut, yah khas air sungai yang warnanya coklat, tapi kalo soal seafood wah enak deh…
Benernya bisa naik speed boat dari muara sabak, lebih cepat ![]()
tapi sekarang dah bisa nyampe dengan naik hanya naik mobil loh..
gak perlu lewat jalan sungai lagi
Lewat jalan mana ? karna mpe hari ini kalo ke sana masih nyebrang tuh…. Tolong Infonya ya….thx
yoyoy . . skrg gak jamanx lagi naek speed boat . . . skrg naek mobil prlbadi aja uda bisa nyampe kmpung laut . . secara gt kampung laut makin maju skrg . . . eh linli lo nak kmpunh jg y . . tnggl d mn . . ? klo k kmpng lgi mampir k rmh w dong . . . d jl. prikanan . parit 4 . . . oke! tp,klo liburan ja y . . .cz klo gak w gak da d rmh cz sklh . . . n sklh w d ibu kota indonesia . . . JANGAN LUPE YE . . . .
yoyoy . . skrg gak jamanx lagi naek speed boat . . . skrg naek mobil prlbadi aja uda bisa nyampe kmpung laut . . secara gt kampung laut makin maju skrg . . . eh linli lo nak kmpunh jg y . . tnggl d mn . . ? klo k kmpng lgi mampir k rmh w dong . . . d jl. prikanan . parit 4 tepatnya b rmh mantan org nomor wahid d kampug laut. . . oke! tp,klo liburan ja y . . .cz klo gak w gak da d rmh cz sklh . . . n sklh w d ibu kota indonesia . . . JANGAN LUPE YE . . . .
hehe… numpang nampang… ni kuswan temen mbak Irna…
dengar critanya jadi kangen lg ma kampung laut, kangen ma teman2ku waktu kcil dulu kalau air laut pasang sering berenang rame2, lompat kelaut dari tempat2 yang tinggi, wah pokoknya asyik. nanti suatu hari aku ingin kembali kesana lagi(klo bleh cuti ma DAN). aku dulu tinggal di dekat kantor polisi pas di samping parit4.
kampung laut….thE best lah
rugi abiss kalaw gk ksini
salam semua buat teman2 yang sama2 berasal dari kampung laut….soal nya aq juga orang kampung laut,..hehehe……aq tgl di parit 5
Saya adalah anak asli kampung laut yang berdiam di Surabaya. Terima kasih tulisan tentang kampung laut. Terus terang saya tetap merindukannya.
November 24, 2008 pada 9:08 am
HHmmm …
Kampung laut … Tanjung Jabung … Jambi …
Wah aku belum pernah kesana nih ..
Catet … catet …
Wah nggak kebayang kalo Trainer ngublek-ngublek Kampung Laut