Posted by: Irna on: April 24, 2008
Ada yang berubah saat kembali menginjakkan kaki di Surabaya. Khususnya ketika melintasi kawasan jl Gembong dan terminal Jembatan Merah. Kedua kawasan tersebut lebih tertib dan bersih. Banyak kalangan yang berbeda pendapat atas langkah bersih-bersih pedagang kaki lima (PKL) oleh Walikota Surabaya tersebut. Di Tabloid Sindo tanggal 23 April 2008, seorang pembaca yang kemungkinan adalah korban dari penggusuran mengirim opini yang menentang kebijakan tersebut. Ia mengatakan bahwa penggusuran PKL menciptakan ‘kemiskinan baru’. Walaupun sebenarnya para korban tersebut, menurut pendapat saya, sudah tergolong masyarakat miskin. Bayangkan saja. Berapa sih pendapatan mereka yang berjualan segala sesuatu yang bekas-bekas di jl Gembong dan sekitarnya. Jam bekas, sepeda bekas, kipas angin bekas, baju bekas.
Sungguh dilematis. Saya yakin, seluruh warga kota Surabaya ingin hidup nyaman di kota yang semakin padat ini. Warga yang mampu ingin menikmati jalan yang tidak semrawut, pemandangan kota yang bersih dan tertib. Sementara yang tidak mampu (miskin) ingin memperoleh pendapatan dengan mudah, memiliki tempat usaha yang dekat dengan keramaian tanpa perlu membayar mahal (gratis).
Bagaimanapun, saya mendukung usaha Walikota Surabaya. Masyarakat belum menyadari bahwa seharusnya kemiskinan tidak dijadikan alasan untuk tidak tertib. Bahwa tidak memiliki lahan bukan berarti berhak mengambil lahan umum untuk berusaha. Kemiskinan tidak akan terentaskan hanya dengan mendirikan bangunan-bangunan kumuh di seluruh kota Surabaya, di sepanjang sungai Mas, di pinggir-pinggir jalan, di bawah jembatan, di sekitar rel kereta api..
Tetapi, ada baiknya langkah Pemkot Surabaya juga diimbangi dengan menyediakan lapangan pekerjaan yang baik untuk warga miskinnya. Sulap Sungai Mas menjadi lahan ekonomis bagi masyarakat miskin. Misalnya dengan menjadikannya kawasan wisata, dengan perahu-perahu kecil yang cantik, yang beriringan sepanjang sungai. Jadikan beberapa kawasan menjadi kawasan ekonomis masyarakat bawah yang tertib…. dan ramai pengunjung. Saya yakin masyarakat akan bangga memiliki seorang walikota yang kaya ide dan kaya hati.
Mei 2, 2008 pada 4:08 am
aku setuju juga….
meskipun udah puluhan tahun berjualan disana, dengan alasan mulai dari kakek nenek nya sudah berjualan disana mereka itu bukan penduduk asli surabaya.
kalo dulu surabaya masih belum padat sih gpp bagi pendatang yang tidak ber-skill datang terus jualan…
tapi, kalo sekarang???
HIDUP PEMKOT SURABAYA